gravatar

Tahun Ke Dua


Memakai seragam baru tentu merupakan hal yg membanggakan bagi saya walaupun hanya sebagai pegawai rendah. Untuk mencapai lokasi kerja harus saya tempuh dengan perjalanan yg tidak bisa dibilang singkat. Membutuhkan waktu setidaknya dua jam perjalanan, itupun bila dalam kondisi lumayan lancar. Maklumlah hidup di kota besar seperti Jakarta, waktu tempuh kadang susah untuk diprediksi. Naik angkot turun angkot berganti dengan naik bus dan turun bus saya lalui dengan tetap bersyukur. Mencari kerja khususnya di kota besar bisa dibilang rada sulit walaupun hanya untuk menjadi pegawai seperti saya. Jadi itulah yg harus saya syukuri, Yang Maha Kuasa pasti punya rencana.

Tahun kedua ditempat kerja, saya pun mencoba memahami lingkungan kerja saya atau yg sering disebut adaptasi oleh orang-orang pintar. Pertemanan dengan rekan seperjuangan pun semakin dekat, demikian pula hubungan kerja dengan para senior dan beberapa bos.

Upah yg saya terima seiring waktu juga mengalami penambahan. Syukur alhamdulillah saya bisa simpan untuk membahagiakan orangtua saya yaitu ibu tercinta. Tidak banyak penambahannya tapi saya coba untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup ibu saya. Bapak sudah lama meninggal, beban keluarga yg tadinya ditanggung oleh ibu kini berganti kepada saya dan kakak saya.

Sama dengan teman dan senior yg lain, terkadang saya dengan satu orang teman dan senior serta bos diminta menjalankan tugas di luar kota. Di luar kota atau di kantor tetap saja yg saya lakukan hanyalah sebagai seorang tukang sapu tak lebih dari itu. Benar seperti kata orang yg mengatakan, "apa yg kamu harapkan dari berpendidikan rendah?".

Teman-teman seperjuangan saya sering mencoba menjodohi saya dengan teman wanita yang juga merupakan seperjuangan dengan saya. Entah apa yg mendasari mereka? mungkin mereka kasihan terhadap kami berdua yg belum memiliki pasangan atau mereka cuma iseng saja. Tapi lama-lama saya pun merasa jatuh hati dengan wanita itu dan akhirnya kami memutuskan untuk menjalin relationship (dikutip dari kamus bahasa inggris yg ada di meja kantor bos) karena kami tidak ingin menyebutnya sebagai berpacaran.

Nekad juga memang, upah pas-pas an, duit g ada kok nekad. Untungnya dia mengerti bahwa kondisi keuangan saya memang sulit. Semua terasa indah ditahun pertama relationship kami. Dengan duit yg tidak banyak tentu saja saya tidak bisa memberikan semua yg diingininya. Saya pun hanya sanggup mengantarkan dia pulang dengan menaiki bus. Tak berapa lama, alhamdulillah saya bisa membeli motor, bukan motor racing yg sering saya liat di acara moto GP di tv tapi lumayanlah setidaknya ada roda dan mesinnya. Relationship kami mengalir apa adanya.

Dunia pekerjaan kadang membuat saya tidak mengerti, maklum saja saya ini bukan termasuk orang yg pintar. Hal ini didasari oleh perilaku senior yg merasa jengkel, marah, cemburu atau apapun yg ada dipikiran mereka karena saya dituduh menjilat atasan. Dengan apa saya melakukan itu?, lucu dan tidak beralasan prasangka mereka, karena saya tidak memiliki kemampuan untuk itu. Mungkin karena mereka sering melihat saya diberi banyak pekerjaan untuk membantu bos, hal itu terjadi mungkin dikarenakan setiap pekerjaan yg diminta oleh bos selalu saya kerjakan dengan cepat dan sebisa yg saya mampu serta dengan hati yg tulus ikhlas.

Tuduhan merebak menyebar ke teman-teman dan senior-senior yg lain. Berbuatan mereka seperti belum mau berhenti sampai disitu saja, relationship saya yg dijalani dengan kepolosan cara kami pun diusik dengan mengatakan bahwa kami tidak bekerja dengan benar malah waktu kerja kami hanya dihabiskan dengan berpacaran dan melakukan hal yg tidak semestinya.

Sepertinya Tuhan sedang menguji saya dan relationship saya. Teman-teman seperjuangan pun mulai menjauhi dan membenci kami berdua terutama saya. Tak kuasa hati menahan, akhirnya saya pun menegur secara baik-baik kepada teman yg telah menggunjingkan kami berdua atas relationship yg telah kami bina dengan sederhana ini. Bahkan saya tidak pernah meminta mereka untuk meminta maaf kepada saya justru sayalah yg meminta maaf kepada mereka, saya lakukan itu semua demi menjaga hubungan pertemanan kami semua. Tapi untuk berita miring kalo saya menjilat bos, saya biarkan mereda dengan sendirinya saja.

Semoga jasad dan roh mereka diampuni oleh Sang Pencipta. Dan kalaupun mereka harus mendapatkan sisksa neraka, saya berdoa semoga bukan karena lidah dan perbuatan mereka kepada kami berdua.

Semenjak saat itu pertemanan kami berdua dengan teman-teman seperjuangan dan para senior pun semakin renggang bahkan memburuk. Semua saya serahkan kepada Illahi, Tuhan yg tidak pernah tidur dan memejamkan mata walau hanya sedetik.

gravatar

Prakata Prikitiw


Sebagai tukang sapu saya tau persis pekerjaan saya bukanlah pekerjaan yg bisa dibilang mewah dan menjanjikan. Lalu kenapa saya memilih pekerjaan ini ? itu hanyalah karena saya tidak memiliki keterampilan lain selain yg saya miliki dan tentu saja diiringi pula dengan tingkat pendidikan saya yg cukup rendah.

Berawal sejak saya mulai diterima di tempat saya bekerja tepat pada tahun 2005. Kala itu dengan semangat idealis pendamba kerja yg saya miliki dan mungkin kurang lebih tidak jauh berbeda dengan pendamba kerja yg lain. Saya memulai rutinitas dengan semangat membara dan tekad ingin bekerja sungguh-sungguh walaupun sampai sekarang pun juga masih tapi agak sedikit berkurang.

Pekerjaan berat terasa ringan sedangkan yg ringan tidak dirasakan. Melihat hal itu pun ternyata senior pun juga turut senang, tapi hal itu digunakan senior untuk lebih memberdayakan saya atau kata lainnya"memanfaatkan". Sesekali itu bukanlah menjadi persoalan yg besar tetapi lama kelamaan, menjengkelkan juga ternyata. Upah yg saya dapat selama bekerja sebulan pun hanya sanggup untuk membeli beras dan sekedar lauk pauk.

Ditahun pertama bekerja, saya belum mendapat seragam sehingga saya hanya memakai baju kumal milik sendiri yg tentu saja masih layak pakai. Kebersamaan diantara teman seperjuangan pun terasa indah dan baik-baik saja. Kami menjalani pelatihan guna meningkatkan kemampuan dan pemahaman kami akan dunia kami yg baru.

Pelatihan demi pelatihan pun saya jalani tak terasa sampailah di ujung dari tahun pertama. Waktu terasa begitu cepat bak seorang pelari sprinter melintasi trek larinya. Kenangan indah tertoreh di kanvas luas putih membentang seiring kuas menyapu lembut.

Tahun pun berganti, saya pun mendapat baju seragam yg baru. Menurut cerita senior baju seragam akan selalu berganti ditiap tahunnya. Tapi itu bukan masalah buat saya, baju ini tentu lebih baik dari yg saya miliki. Saya pun masih diberi kesempatan untuk memakai baju kumal koleksi sendiri di hari yg ditentukan karena baju seragam baru itu tidak diwajibkan untuk dipakai setiap hari.